My Weblog

Just another WordPress.com weblog

PEMBAGIAN KELAS KATA DALAM BAHASA INDONESIA

1. VERBA
Secara sintaksis sebuah satuan gramatikal dapat diketahui berategoi verba dari perilakunya dari satuan yang lebih besar; jadi sebuah kata dapat dikatakan berkaegori verba hanya dari peri lakunya dalam frase, yakni dalam hal kemunginannya satuan itu didampingi partikel tidak dalam konstruksi dan dalam hal tidak dapat didampinginya satuan itu dangan partikel di, ke, dari, atau dengan partikel seperti sangat, lebih, atau agak. Secara umum verba dapat diidentifikasikan dan dibedakan dari kelas kata yang lain, terutama dari adjektiva, karena ciri-ciri berikut.
a. Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain.
Contoh:
1. Pencuri itu lari.
2. Mereka sedang belajar di kamar.
3. Bom itu seharusnya tidak meledak.
4. Orang asing itu tidak akan suka masakan Indonesia.
Bagian yang dicetak miring dalam kalimat di atas adalah predikat, yaitu bagian yang menjadi pengikat bagian lain dalam kalimat itu.
b. Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
c. Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti “paling”. Verba seperti mati atau suka, misalnya, tidak dapat diubah menjadi termati atau tersuka.
d. Pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan. Tidak ada bentuk seperti agak belajar, sangat pergi, dan bekerja sekali

VERBA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA
Tiap verba memiliki makna inheren yang terkandung di dalamnya
 mengandung makna inheren perbuatan. Contoh: lari, belajar, mendekat, mencuri, memberhentikan, menakut-nakuti, naik haji.
 Verba seperti itu biasanya dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan Apa yang dilakukan oleh subyek?
 Semua verba perbuatan dapat dipakai dalam kalimat perintah.
 Mengandung makna inheren proses. Contoh: meledak, mati, jatuh, mongering, mengecil, kebanjiran, terdampar.
 Verba yang mengandung makna itu biasanya dapat menjawab pertanyaan Apa yang terjadi pada subyek?
 Verba proses juga menyatakan adanya perubahan dari suatu keadaan ke keadaan lain.
 Mengandung makna inheren keadaan. Contoh: suka, mati, berguna.
 Verba keadaan menyatakan bahwa acuan verba berada dalam situasi tertentu. Verba keadaan sering sulit dibedakan dari adjektiva karena kedua jenis kata itu mempunyai banyak persamaan. Bahkan dapat dikatakan bahwa verba keadaan yang tidak tumpang-tindih dengan adjektiva jumlahnya sedikit. Satu ciri yang dapat membedakan keduanya ialah bahwa perfiks adjektiva ter- yang berarti “paling” dapat ditambahkan pada adjektiva , tetapi tidak pada adjektiva keadaan.
Makna inheren suatu verba tidak terikat dengan wujud verba tersebut. Apakah suatu verba disebut kata dasar, kata yang tanpa afiks, atau dengan afiks, hal itu tidak mempengaruhi makna. Makna inheren juga tidak selalu berkaitan dengan status ketransitifan suatu verba.
– Verba pengalaman. Contoh: mendengar, melihat, tahu, lupa, ingat, menyadari.
– Makna verba yang muncul karena adanya afiksasi. Contoh: membelikan, memukuli, terbawa.

VERBA DARI SEGI PERILAKU SINTAKSISNYA
Verba merupakan unsur yang sangat penting dalam kalimat karena dalam kebanyakan hal verba berpengaruh besar terhadap unsur-unsur lain yang harus atau boleh ada dalam kalimat tersebut.

1. Verba Transitif
Verba transitif yaitu verba yang memerlukan nomina sbagai objek dalam kalimat aktif, dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Contoh:
1. a. Ibu sedang membersihkan kamar.
b. Kamar itu sedang dibersihkan oleh ibu.
2. a. Rakyat pasti mencintai pemimpin yang jujur.
b. Pemimpin yang jujur pasti dicintai oleh rakyat.
3. a. Polisi harus memperlancar arus lalu lintas.
b. Arus lalu lintas harus diperlancar oleh polisi.
4. a. Pemerintah akan memberlakukan peraturan itu segera.
b. Peraturan itu segera akan diberlakukan oleh pemerintah.
5. a. Sekarang orang sukar mencari pekerjaan.
b. Sekarang pekerjaan sukar dicari orang.
Verba transitif dapat dibedakan menjadi.
▪ Verba ekstransitif adalah verba transitif yang diikuti oleh satu objek.
Contoh: saya sedang mencari pekerjaan.
subyek obyek
Objek dalam kalimat yang mengandung verba ekatransitif dapat diubah fungsinya sebagai subyek dalam kalimat pasif.
▪ Verba dwitransitif adalah verba yang dalam kalimat aktif dapat diikuti oleh dua nomina, satu sebagai objek dan satunya lagi sebagai pelengkap.
Contoh: saya sedang mencarikan adik saya pekerjaan, ibu akan membelikan kakak baju baru. Sejumlah verba dwitransitif memiliki ciri semantis yang “membedakan fungsi objek dari pelengkap yang berupa nama, julukan, gelar, atau kedudukan. Contoh: mereka menamai bayi itu Sarah, masyarakat menuduh dia pencuri, dia memanggil saudaranya Alan. Bila kalimat ini dijadikan kalimat pasif, maka pelengkapnya bisa berada di belakang verba, di muka verba, kata tugas oleh umumnya tidak dipakai, kecuali bila ditempatkan di muka.
Ada pula verba yang dapat bersifat dwitransitif dan ekatransitif . Contoh: mereka memanggil kamu si Botak dan mereka memanggil kamu.
▪ Verba semi transitif ialah verba yang objeknya boleh ada dan boleh tidak. Contoh: ayah sedang membaca koran, ayah sedang membaca.
2. Verba Taktransitif
Verba taktransitif adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai subyek dalam kalimat pasif. Contoh:
1. Maaf, Pak, Ayah sedang mandi.
2. Kami harus bekerja keras untuk membangun negara.
3. Petani di pegunungan bertanam jagung.
Verba taktransitif dibagi menjadi
▪ Verba berpelengkap. Jika pelengkap itu tidak hadir maka kalimat tidak sempurna dan tidak berterima. Contoh: Rumah orang kaya itu berjumlah lima puluh buah, yang dikemukakan adalah suatu dugaan, dia sudah mulai bekerja, nasi telah menjadi bubur,
▪ Verba taktransitif berpelengkap manasuka. Pelengkap tidak selalu hadir. Di antara verba seperti itu ada yang diikuti oleh kata atau frasa tertentu yang kelihatannya seperti pelengkap, tetapi sebenarnya adalah keterangan. Contoh: makin tua makin menjadi, pikiran yang dikemukakannya bernilai, film itu berwarna, bibit kelapa itu tumbuh subur
3. Verba Berpreposisi
Verba berpreposisi ialah verba taktransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu. Contoh:
1. Kami belum tahu akan/tentang hal itu.
2. Saya sering berbicara tentang hal ini.
3. Sofyan berminat pada musik.
4. Keberhasilan pembangunan banyak bergantung pada mentalitas para pelaksananya..
Di antara verba berpreposisi, ada yang sama artinya dengan verba ransitif. Contoh: berbicara tentang = membicarakan, cinta pada/akan = mencintai, suka akan = menyukai, tahu akan/tentang = mengetahui, bertemu dengan = menemui.

VERBA DARI SEGI BENTUKNYA
1. Verba Asal
Verba asal ialah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks. Contoh: ada, bangun, cinta, gugur, hancur, hidup, dating, paham, pecah.
2. Verba Turunan
Verba turunan adalah verba yang dibentuk melalui trasposisi, pengafiksan, reduplikasi (pengulangan), atau pemajemukan (pemaduan).
▪ Transposisi adalah suatu proses penurunan kata yang memperlihatkan peralihan suatu kata dari kategori sintaksis yang satu ke kategori sintaksis yang lain tanpa mengubah bentuknya. Contoh: telepon, cangkul, gunting, sikat.
▪ Pengafiksan adalah penambahan afiks pada dasar. Contoh: membeli, mendarat, beremu, bersepeda.
▪ Reduplikasi adalah pengulangan suatu dasar. Contoh: lari-lari, makan-makan, tembak-menembak, mereka-reka.
▪ Pemajemukan adalah penggabungan atau pemaduan dua dasar atau lebih sehingga menjadi satu satuan makna. Contoh: jual beli, jatuh bangun, salah sangka, salah hitung, hancur lebur.

DILIHAT DARI HUBUNGAN VERBA DENGAN NOMINA
1. Verba Aktif,
yaitu verba yang subyeknya berperan sebagai pelaku.
Contoh: ia mengapur dinding; saya makan nasi;
2. Verba pasif,
yaitu verba yang subyeknya berperan sebagai penderita, sasaran, atau hasil.
Contoh: Adik dipukul ayah; buku itu terinjak olehku.
3. Verba anti – aktif (ergatif),
yaitu verba pasif yang tidak dapat diubah menjdi verba aktif, dan subyeknya merupakan penanggap ( yang merasakan, menderita, mengalami).
Contoh: Ibu kecopetan di bis. ( yang tidak berasal dari ’X mencopet ibu)
4. Verba anti – pasif,
yaitu verba aktif yang tidak dapat diubah menjadi verba pasif.
Contoh: Ia haus akan kasih sayang; pemuda ini benci terhadap perempuan.

DILIHAT DARI INTERAKSI ANTARA NOMINA PENDAMPINGNYA
1. Verba Respirokal,
yaitu verba yang menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh dua pihak, dan perbuatan tersebut dilakukan dengan saling berbalasan. Kedua belah pihak terlibat perbuatan.
Contoh: berkelahi, berpegangan, tolong – menolong.
2. Verba non-respirokal,
yaitu verba yang tidak menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh dua pihak dan tidak saling berbalasan.

2. NOMINA
Nomina sering juga disebut kata benda. Dari segi sintaksisnya, nomina mempunyai ciri-ciri tertentu.
a. Dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina cenderung menduduki fungsi subyek, objek, atau pelengkap.
b. Nomina tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak. Kata pengingkarnya ialah bukan.
c. Nomina umumnya dapat diikuti oleh adjektiva, baik secara langsung maupun dengan diantarai oleh kata yang.
d. Mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari.

NOMINA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA
Tiap kata dalam bahasa mana pun mengandung fitur-fitur semantic yang secara universal melekat pada kata tersebut. Pemakaian preposisi di, di dalam, dan di atas dipengaruhi oleh fitur semantic yang ada pada nomina porosnya. Kata-kata dalam bahasa sering pula dipengaruhi oleh budaya masyarakat yang bersangkutan. Contoh: gadis itu akan kawin dengan Agus minggu depan, Agus akan mengawini gadis itu minggu depan, di dalam laci, di meja.

NOMINA DARI SEGI PERILAKU SINTAKSISNYA
Pada frasa nominal, nimina befungsi sebagai ini atau poros frasa. Sebagai inti frasa, nomina menduduki bagian utama, sedangkan pewatasnya berada di muka atau di belakangnya. Bila pewatas frasa nominal itu berada di muka, pewatas ini umumnya berupa numeralia atau kata tugas. Contoh: lima lembar, seorang guru, beberapa sopir, bukan jawaban, banyak masalah.
Kalau pewatas berada di belakang nomina, nomina yang merupakan inti frasa itu diikuti oleh pewatas yang berupa nomina, ajektiva, verba, atau kelas kata yang lain. Contoh: masalah penduduk, kelas ringan, pola berpikir, rumah kita, tabungan berjangka.
Nomina juga digunakan dalam frasa preposisional. Nomina bertindak sebagai poros yang didahului oleh preposisi tertentu. Contoh: di kantor, ke desa, dari markas, untuk adekmu, pada masa itu.

NOMINA DARI SEGI BENTUKNYA
1. Nomina Dasar
Nomina dasar adalah nomina yang hanya terdiri atas satu morfem.
a. Nomina dasar umum
Contoh: gambar, meja, rumah, malam, minggu.
b. Nomina dasar khusus
Contoh: adik, atas batang, bawah, dalam.
Dalam kelompok nomina dasar khusus kita temukan bermacam-macam subkategori kata dengan beberapa fitur semantiknya.
1. Nomina yang mengacu pada tempat seperti di atas, di bawah, di dalam.
2. Nomina yang mengacu pada nama geografis.
3. Nomina yang menyatakan penggolongan kata berdasarkan bentuk rupa acuannya secara idiomatis.
4. Nomina yang mengacu pada nama diri orang.
5. Nomina yang mengacu pada orang yang masih mempunyai hubungan kekerabatan.
6. Nomina yang mengacu pada nama hari.

2. Nomina Turunan
Nomina dapat diturunkan melalui afiksasi, perulangan, atau pemajemukan.
▪ Afiksasi nomina adalah suatu proses pembentukan nomina dengan menambahkan afiks tertentu pada kata dasar. Ada tujuh macam afiksasi dalam penurunan nomina:
1. ke-
contoh: ketua, kehendak, kekasih dan kerangka.
2. pel-, per-, dan pe-
contoh: pelajar, pertapa, persegi, petani, perdagangan.
3. peng-
a. orang atau hal yang melakukan perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: pembeli, pendobrag, pengawas, pemilih, pengirim, pengetes.
b. orang yang pekerjaannya melakukan kegiatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: penyanyi, pelaut, pemulung, pengemis, penyiar.
c. orang yang memiliki sifat yang dinyatakan oleh adjektiva dasarnya. Contoh: pemarah, penakut, pelupa, pemalas, periang.
d. alat untuk melakukan kegiatan yang dilakukan oleh verba. Contoh: penggali, penghapus, pembersih, pendorong, penopang.
3. –an
a. hasil tindakan atau sesuatu yang dinyatakan oleh verba. Contoh: anjuran, kiriman, asinan, kiloan.
b. Makna lokasi. Contoh: tepian, belokan, awalan, akhiran.
c. Waktu yang berkala. Contoh: harian, mingguan, bulanan, tahunan.
d. Buah-buahan. Contoh: durian, rambutan.
e. Kumpulan dari nomina. Contoh: sayuran, lautan.
4. peng-an
a. perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: pemberontakan, pendaftaran, pengunduran, penyajian, pelampiasan.
b. hasil perbuatan; hal yang dinyatakan verba. Contoh: pengakuan, penghargaan, penyelesaian, pengumuman, pemberitaan.
c. maknanya unik sehingga harus ditentukan sendiri-sendiri. Contoh: pendirian, pendapatan, pemandangan, pendengaran.
5. per-an
a. diturunkan dari verba taktransitif dan berawalan ber-. Contoh: perjanjian, pergerakan, perjalanan, pertemuan, perpindahan.
b. Berkaitan dengan verba meng- atau memper- yang berstatus transitif. Contoh: perlawanan, permintaan, percobaan, pergelaran, perjuangan.
c. Hal, keadaan, atau hasil yang dinyatakan oleh verba. Contoh: pergerakan, perdagangan, pertanian, perjuangan.
d. Perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: perkelahian, perzinaan, percakapan,ercobaan, perlawanan.
e. Hal yang berkaitan dengan kata dasar. Contoh: perikanan, perkapalan, perbukuan, perburuhan, persuratkabaran.
f. Tempat yang dirujuk oleh verba atau kata dasar. Contoh: perapian, perkotaan, perkampungan, perkemahan, perguruan.
6. ke-an
a. hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan verba. Contoh: kepergian, kedatangan, kehadiran, keberangkatan, keputusan, ketetapan.
b. Hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan adjektiva. Contoh: kekosongan, keberanian, kebimbangan, kemalasan, kekecewaan.
c. Keabstrakan. Contoh: kebangsaan, kemanusiaan, kerakyatan, kekeluargaan.
d. Kantor atau wilayah kekuasaan. Contoh: kedutaan, kelurahan, kecamatan.
e. Kumpulan dari kata dasar. Contoh: kepulauan.
▪ Perulangan atau reduplikasi adalah proses penurunan kata dengan perulangan, baik secara utuh maupun secara sebagian.
1. Ketaktunggalan
 Makna Keanekaan. Contoh: bangun-bangunan, coret-coret, desas-desus, warna-warni, teka-teki.
 Makna Kekolektifan. Contoh: dedaunan, pepohonan, biji-bijian, daun-daunan, rumput-rumputan.
2. Kemiripan
 Makna Kemiripan Rupa. Contoh: bapak-bapak, kakek-kakek, mata-mata, kuda-kuda, jari-jari.
 Makna Kemiripan Cara. Contoh: kucing-kucingan, angina-anginan, kebelanda-belandaan, kekanak-kanakan, kegila-gilaan.

SUBKATEGORISASI TERHADAP NOMINA DILAKUKAN DENGAN MEMBEDAKAN:
1. Nomina bernyawa dan tak bernyawa
Nomina bernyawa dapat disubtitusikan dengan ia atau mereka, sedangkan yang tak bernyawa tidak dapat.
Contoh nomina bernyawa: nenek, nona, tuan.
Contoh nomina tak bernyawa: Jawa, sekarang, karung.
2. Nomina terbilang dan tak terbilang
Nomina terbilang adalah nomina yang dapat dihitung (dan dapat didampingi oleh numeralia) seperti kantor, kampung, buku.
Nomina tak terbilang ialah nomina yang tak dapat didampingi oleh numeralia seperti udara, kebersihan; termasuk pula nama diri dan nama geografis.
3. Nomina kolektif dan bukan kolektif
Nomina kolektif mempunyai ciri dapat disubtitusikan dengan mereka atau dapat diperinci atas anggota atau atas bagian – bagian. Nomina kolektif terdiri atas nomina dasar seperti: tentara, puak, keluarga, dan nomina turunan seperti: wangi – wangian, tepung – tepungan.

3. NUMERALIA
Numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya maujud (orang, binatang, atau brang) dan konsep. Numeralia adalah kategori yang dapat (1) mendampingi nomina dalam konstruksi sintaksis, (2) mempunyai potensi untuk mendamping numeralia lain, dan (3) tidak dapat bergabung dengan tidak atau dengan sangat. Numeralia mewakili bilangan yang terdapat dalam alam diluar bahasa.

NUMERALIA POKOK
1. Numeralia pokok tentu,
mengacu pada bilangan pokok, yakni 0(nol), 1(satu), 2(dua), sampai 9(Sembilan).Ada pula numeralia yang merupakan gugus yaitu diantara sepuluh dan dua puluh dipakai gugus yang berkomponen belas. Bilangan di atas bilangan sembilan belas dinyatakan dengan menganggap seolah olah bilangan itu terdiri atas beberapa gugus dan bilangan. Contoh : 7.859 =Tujuh ribu delapan ratus lima puluh Sembilan. Dalam bahasa Indonesia baku, numeralia pokok ditempatkan di muka nomina dan dapat diselingi oleh kata penggolong seperti orang, ekor, dan buah. Contoh: majalah kami memerlukan tiga orang penyunting, pak hasan mempunyai dua ekor burung merak.
2. Numeralia pokok kolektif,
dibentuk dengan prefiks ke- yang ditempatkan dimuka nomina yang diperankan. Contoh: ketiga pemain, kedua gedung, kesepuluh anggota. Jika tidak diikuti oleh nomina, biasanya bentuk itu diulang dan dilengkapi dengan -nya. Contoh: kedua-duanya, ketiga-tiganya.
Numeralia kolektif dibentuk dengan cara
1. Penambahan prefiks ber- atau se- pada nomina tertentu setelah numeralia. Contoh: tiga bersaudara, empat beranak, tiga sekawan, tiga serangkai, dua sejoli.
2. Penambahan prefiks ber- pada numeralia pokok dan hasilnya diletakkan sesudah pronominal persona. Contoh: (kamu) berlima, (kami) berenam.
3 Pemakain numeralia yang berprefiks ber- dan yang diulang. Contoh: beribu- ribu, berjuta-juta.
4. Pemakaian gugus numeralia yang bersufiks –an. Contoh: puluhan, ratusan.
3. Numeralia pokok distributif,
dapat dibentuk dengan cara mengulang kata bilangan. Artinya ialah ‘demi’ dan ‘masing-masing’. Contoh: satu-satu, dua-dua.
4. Numeralia pokok tak tentu,
mengacu pada jumlah yang tidak pasti dan sebagian besar numeralia ini tidak dapat menjadi jawaban atas peranyaan yang memakai kata tanya berapa, ditempatkan di muka nomina yang diterangkannya. Contoh: banyak orang, berbagai masalah, pelbagai budaya, sedikit air, semua jawaban, seluruh rakyat, segala penjuru, segenap anggota.
5. Numeralia pokok klitika,
yaitu numeralia lain yang dipungut dari bahasa Jawa Kuna, diletakkan di muka nomina yang bersangkutan. Contoh: triwulan, caturwulan, pancasila, saptamarga, dasalomba.
6. Numeralia ukuran.
Contoh: lusin, kodi, meter, liter, atau gram.

NUMERALIA TINGKAT
Numeralia pokok dapat diubah menjadi numeralia tingkat. Cara mengubahnya adalah dengan menambahkan ke- di muka bilangan yang bersangkutan. Contoh: kesatu atau pertama, kesepuluh, pemain ketiga, jawaban kedua itu, suara pertama.

NUMERALIA PECAHAN
Tiap bilangan pokok dapat dipecah menjadi bagian yang lebih kecil yang dinamakan numeralia pecahan. Cara membentuknya dengan memakai kata per- diantara bilangan pembagi dan penyebut. Bilangan pecahan dapat mengikuti bilangan pokok. Bilangan campuran dapat ditulis desimal. Contoh: 1/2 = seperdua, setengah, separuh; 1/10 = sepersepuluh; 3/5 = tiga perlima; 9,75 = sembilan tigaperempat atau sembilan koma tujuh lima.

FRASA NUMERALIA
Umumnya dibentuk dengan menambahkan kata penggolong. Contoh: dua ekor (kerbau), lima orang (penjahat), tiga buah (rumah).

4. ADJEKTIVA
Adjektiva ialah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat.
Adjektiva ditandai oleh kemungkinannya untuk (1) bergabung dengan partikel tidak, (2) mendampingi nomina, atau (3) didampingi partikel seperti lebih, sangat, agak, (4) mempunyai ciri – ciri morfologis, seperti –er- (dalam honorer), -if (dalam sensitif ), -i (dalam alami), atau (5) dibentuk menjadi nomina dengan konfiks ke-an, seperti adil – keadilan, halus – kehalusan, yakin – keyakinan (ciri terakhir ini berlaku bagi sebagian besar adjektiva dasar dan bisa menandai verba intransitif, jadi ada tumpang tindih di antaranya)
Adjektiva yang memberikan keterangan terhadap nomina itu berfungsi atributif.
▪ Keterangan itu dapat mengungkapkan suatu kualitas atau keanggotaan dalam suatu golongan. Contoh: kecil, berat, merah, bundar, gaib, dan ganda.
▪ Berfungsi sebagai predikat dan adverbial kalimat, dapat mengacu ke suatu keadaan. Contoh: mabuk, sakit, basah, baik, dan sadar.
▪ Kemungkinan menyatakan tingkat kualitas dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkannya. Contoh: sangat, agak, lebih, dan paling.

ADJEKTIVA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA
1. Adjektiva Bertaraf
Adjektiva bertaraf mengungkapkan suatu kualitas.
a. Adjektiva pemeri sifat. Jenis ini dapat memerikan kualias dan intensitas yang bercorak fisik atau mental. Contoh: aman, bersih, cocok, dangkal, indah.
b. Adjektiva ukuran, mengacu ke kualitas yang dapa diukur dengan ukuran yang sifatnya kuantitatif. Contoh: berat, ringan, tinggi, panjang, luas.
c. Adjektiva warna, mengacu ke berbagai warna seperti merah, kuning, hijau, biru, lembayung.
d. Adjektiva waktu mengacu ke makna proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung sebagai pewatas. Contoh: lama, segera, jarang, mendadak, singkat,.
e. Adjektiva jarak mengacu ke ruang antara dua benda, tempat, atau maujud sebagai pewatas nomina. Contoh: jauh, dekat, lebat, suntuk, akrab.
f. Adjektiva sikap batin bertalian dengan pengacuan suasana hati atau perasaan. Contoh: bahagia, bangga, benci, iba, jemu, yakin.
g. Adjektiva cerapan bertalian dengan pancaindera, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman atau penghiduan, perabaan, dan pencitarasaan. Ciri yang menarik pada adjektiva cerapan dalam kalimat ialah sering terjadinya gejala sinestesi. Artinya, ada penggabungan indra yang nertalian dengan nomina dan adjektiva yang mengacu kepada dua macam cerapan yang berbeda. Contoh: gemerlap, bising, anyir, basah, asam.
2. Adjektiva Tak Bertaraf
Adjekiva tak bertaraf menempatkan acuan nomina yang diwatasinya di dalam kelompok atau golongan tertentu. Kehadirannya dalam lingkungan itu tidak dapat bertaraf-taraf. Sesuatu ada di dalamnya atau di luarnya. Contoh: abadi, buntu, bundar, lonjong, tunggal.

ADJEKTIVA DARI SEGI PERILAKU SINTAKSISNYA
1. Fungsi Atributif
Adjektiva yang merupakan pewatas dalam frasa nominal yang nominalnya menjadi subyek, objek, atau pelengkap dikatakan dipakai secara atributif. Tempatnya di sebelah kanan nomina. Jika pewatas nomina lebih dari satu, rangkaian pewatas itu lazimnya dihubungkan oleh kata yang. Contoh: buku merah, harga mahal, baju putih yang panjang, mobil tua yang murah, baju putih yang panjang dan bersih.
2. Fungsi Predikatif
Adjektiva yang menjalankan fungsi predikat atau pelengkap dalam klausa dikatakan dipakai secara predikatif. Jika subjek atau predikat kalimat berupa frasa atau klausa yang panjang disisipkan kata adalah. Adjektiva dapat disebut frasa adjectival atau inti frasa, dapat diwatasi dengan pemarkah aspektualitas dan pemarkah modalitas yang ditempatkan di sebelah kirinya. Adjektiva dalam frasa adjectival dapat juga diikuti pewatas yang berposisi di seelah kanannya. Contoh: gedung yang baru itu sangat megah, kabar itu membuat mereka gembira, yang disarankannya kepadamu itu (adalah) baik, (adalah) wajar bagi seorang istri jadi cemburu, tidak keras kepala, sakit lagi.

3. Fungsi Adverbial atau Keterangan
Adjektiva yang mewatasi verba (atau adjektiva) yang menjadi predikat klausa dikatakan dipakai secara adverbial atau sebagai keterangan. Pola struktur adverbial itu dua macam: (1) … (dengan) + (se-) + adjektiva + (-nya) yang dapat disertai reduplikasi dan (2) perulangan adjektiva. Contoh: (bekerja) dengan baik, (bekerja) baik-baik, (menjawab) dengan sebenarnya, (menjawab) sebenar-benarnya, terbang tinggi-tinggi, Undi bekerja dengan baik sekali.

ADJEKTIVA DARI SEGI BENTUKNYA
1. Adjektiva Dasar (Monomorfemis)
Contoh: besar, merah, bundar, pura-pura, hati-hati.
2. Adjektiva Turunan
a. Hasil pengafiksan tentang tingkat ekuatif dengan prefiks se-, tingkat superlatif dengan prefiks ter-
b. Hasil pengafiksan dengan infiks atau sisipan –em- pada nomina, adjektiva yang jumlahnya sangat terbatas. Contoh: gemetar, gemuruh, gemerlap, temaram, sinambung.
c. Hasil penyerapan adjektiva berafiks dari bahasa lain seperti bahasa Arab, Belanda, dan Inggris. Contoh: alami, alamiah, insani, aktif , agresif.

5. ADVERBIA
Dalam tataran frasa, Adverbia adalah kata yang menjelaskan verba, adjektiva, atau adverbia lain. Adverbia adalah kategori yang dapat mendampingi adjektiva, numeralia, atau proposisi dalam konstruksi sintaksis. Sekalipun banyak adverbial dapat mendampingi verba dalam konstruksi sintaksis, namun adanya verba itu bukan menjadi ciri adverbia.
Adverbia tidak boleh dikacaukan dengan keterangan, karena adverbia merupakan konsep kategori; sedangkan keterangan merupakan konsep fungsi. Adverbia dapat ditemui dalam bentuk dasar dan bentuk turunan. Bentuk turunan itu terwujud melalui afiksasi, reduplikasi, gabungan proses, gabungan morfem.
Dalam tataran klausa, adverbia mewatasi atau menjelaskan fungsi-fungsi sintaksis. Umumnya kata atau bagian kalimat yang dijelaskan adverbia itu berfungsi sebagai predikat. Contoh:
▪ ia sangat mencintai istrinya.
▪ Guru saja tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
▪ Melihat penampilannya, ia pasti seorang guru.
▪ Hanya petani yang menanam jagung.
▪ Tampaknya dia tidak menyetujui usul itu.

ADVERBIA DARI SEGI BENTUKNYA
1. ADVERBIA TUNGGAL
a. Adverbia yang berupa kata dasar, hanya terdiri atas satu kata dasar. Contoh: baru, hanya, lebih, hamper, saja, sangat.
b. Adverbia yang berupa kata berafiks, diperoleh dengan menambahkan gabungan afiks se—nya atau afiks –nya pada kata dasar. Contoh: sebaiknya, sesungguhnya, agaknya, rupanya, rasanya.
c. Adverbial yang berupa kata ulang
▪ Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar. Contoh: diam-diam, lekas-lekas, pela-pelan, tinggi-tinggi, lagi-lagi.
▪ Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahan prefiks se-. Contoh: setinggi-tinggi, sepandai-pandai, sebesar-besar, sesabar-sabar, segalak-galak.
▪ Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahah sufiks –an. Contoh: hais-habisan, mati-matian, kecil-kecilan, gila-gilaan, gelap-gelapan.
▪ Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahan gabungan afiks se—nya. Contoh: setinggi-tingginya, sedalam-dalamnya, seikhlas-ikhlasnya, sekuat-kuatnya, selembut-lembutnya.

2. ADVERBIA GABUNGAN
Adverbia gabungan terdiri atas dua adverbia yang berupa kata dasar.
1. Adverbia yang berdampingan. Contoh: lagi pula, hanya saja, hampir selalu, acapkali.
2. Adverbia yang tidak berdampingan. Contoh: hanya … saja, belum … lagi, hamper … kembali, hanya … kembali, tidak … saja.

ADVERBIA DARI SEGI PERILAKU SINTAKSISNYA
Dapat dilihat berdasarkan posisinya terhadap kata atau bagian kalimat yang dijelaskan oleh adverbial yang bersangkutan.
1. Adverbia yang mendahului kata yang diterangkan:
▪ Ia lebih tinggi dari pada adiknya.
▪ Telaga itu sangat indah.
▪ Pendiriannya terlalu kukuh untuk digoyangkan.
▪ Kami hanya menulis apa yang dikatakannya.
2. Adverbia yang mengikuti kata yang diterangkan:
▪ Tampan nian kekasih barumu.
▪ Kami duduk-duduk saja menunggu pangilan.
▪ Jelek benar kelakuannya.
3. Adverbia yang mendahului atau mengikuti kata yang diterangkan:
▪ Mahal amat harga barang-barang itu.
▪ Paginya ia segera pergi meninggalkan kami.
4. Adverbia yang mendahului dan mengikuti kata yang diterangkan:
▪ Saya yakin bukan dia saja yang pandai.
▪ Bagiku, senyumnya sangat manis sekali.

ADVERBIA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA
1. Adverbia Kualitatif
Menggabarkan maknayang berhubungan dengan tingkat, derajat, atau mutu. Contoh: paling, sangat, lebih, dan kurang.
2. Adverbia Kuantitatif
Menggambarka makna yang berhubungan dengan jumlah. Contoh: banyak, sedikit, kira-kira, dan cukup.
3. Adverbia Limitatif
Menggambaran makna yang berhubungan dengan pembatasan. Contoh: hanya, saja, dan sekedar.
4. Adverbia Frekuentatif
Menggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat kekerapan terjadinya sesuatu yang diterangkan adverbial itu. Contoh: selalu, sering, jaang, dan kadang-kadang.
5. Adverbia Kewaktuan
Menggambarkan makna yang berhubungan dengan saat terjadinya peristiwa yang diterangkan oleh adverbial itu. Contoh: baru dan segera.
6. Adverbia Kecaraan
Menggambarkan makna yang berhubungan dengan bagaimaa peristiwa yang dierangkan oleh adverbial itu berlangsubg atau terjadi. Contoh: diam-diam, secepatnya, pelan-pelan..
7. Adverbia Kontrastif
Menggambarkan perentangan dengan makna kata atau hal yang dinyataka sebelumnya. Contoh: bahkan, malahan, dan justru.
8. Adverbia Keniscayaan
Menggambarkan makna yang berhubungan dengan kepastian tentang keberlangsungan aau terjadinya hal atau peristiwa yang dijelaskan adverbial itu. Contoh: niscaya, pasti, dan tentu.

ADVERBIA KONJUNGTIF
Adverbia konjungtif adalah adverbia yang menghubungkan satu klausa atau kalimat dengan klausa atau kalimat yang lain. Contoh: (akan) teapi, bahkan, bahwasanya, dengan demikian, kecuali itu.

ADVERBIA PEMBUKA WACANA
Adverbia pembuka wacana pada umumnya mengawali suatu wacana. Hubunganny pada paragraf sebelumnya didasarkan pada makna yang terkandung pada paragraf sebelumnya itu. Contoh: adapun, akan hal, alkisah, arkian, dalam pada itu.

November 27, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: