My Weblog

Just another WordPress.com weblog

Rupanya Sekarang

Rupanya Sekarang

Aku milik seorang putri yang kaya raya. Melihat paras wajahnya yang cantik bak boneka Barbie membuat mataku selalu tak henti memandangnya. Tubuhnya yang semampai dan proporsional seakan menghipnotisku untuk tak sekalipun berkedip dan memalingkan wajah darinya. Rambutnya berkilau indah, giginya putih berlapis mutiara. Kurasakan hangat tubuhnya mengalir ditubuhku yang ia dekap erat. Detak jantungnya membuatku tidur pulas jika mendengarnya.
”Sayang, tadi pagi aku sudah mengangkat orang tua baru yang akan mendampingiku, aku tak tahan lagi sendirian di rumah sebesar ini.” Ucap Nesi padaku sambil mengambil berkas – berkas lamaran orang tua yang telah diangkatnya.
”Nesi, jangan sampai kau salah memilih orang tua.” Ucapku sambil melihat foto, potret wajah orang yang menjadi ibu dan bapak angkat prety woman ini. Nesi memang anak tunggal, kedua orang tuanya sudah tiada, ia mewarisi seluruh kekayaan mereka. Orang tuanya lebih kaya dari presiden atau anggota dewan yang korupsi sekalipun. Tak heran kalau banyak orang yang mengantri jadi orang tua angkat Nesi. Kamarnya sangat luas, lebih luas dari lapangan sepak bola di negaranya. Pertama kali aku melihat rumahnya yang seperti istana ini, aku serasa menjadi plankton di samudera lepas. Apalagi halaman rumahnya, pesawat kehabisan aftur saat sedang melayang terbangpun dapat landing di halaman rumahnya. Di garasi berderet mobil – mobil impor yang siap mengantarnya kemanapun ia mau, tinggal pilih saja supirnya. Untuk mengemudikan mobil mewahnya ia tidak sembarangan memilih supir. Hanya yang berijazah minimal sarjanalah yang boleh melamar menjadi supir mobil mewahnya dan itupun melalui tahap seleksi yang ketat. Pernah aku diajak ke vipernya, di dalamnya ada ratusan berkas calon pelamar yang belum di-add ke data base.
–unw–
Beberapa bulan setelah Nesi mangangkat orang tua baru, mereka sering bertengkar memperebutkan siapa yang seharusnya memiliki sang putri seutuhnya. Mereka tidak mau berbagi satu sama lain. Hal itu sungguh bertolak belakang dengan apa yang dulu Nesi lihat pada diri mereka.
Aku ingat, ayahnya sebelum diangkat menjadi ayah angkat Nesi pernah bilang ”Nesi jadilah kau anak cerdas yang tidak gampang dibodohi orang lain. Nesi jadilah kau anak manis yang siapa saja bisa tenang bila didekatmu. Nesi jadilah kau bisa mandiri, agar kau bisa bertahan hidup menjaga kekayaanmu, bla bla bla.”
Aku juga ingat, ibu yang sekarang sudah diangkatnya dulu pernah berkata ”Nesi kau sudah besar, banyak orang yang mengantri untuk mendapatkanmu, janganlah percaya pada janji – janji busuk yang tak berbukti. Selektiflah dalam memilih. Ingat kau sangat kaya, ya ya ya.” Perkataan mereka seakan sangat membuat Nesi diperhatikan seperti perhatian orang tua kandungnya dulu hingga gadis cantik itu tak ragu lagi memilih mereka untuk jadi orang tua angkatnya.
–unw–
Pada suatu hari.
”Nesi sayang, rambutmu yang lebat dan bagus bolehkah buat Ibu?” Pinta ibu angkat pada Nesi.
”Nesi cantik, gigimu yang putih bak mutiara bolehkah buat Ayah?” Pinta ayah angkat Nesi. Nesi hanya diam mendengar permintaan yang tak masuk akal itu. Badannya kini terikat oleh tali yang tak sanggup ia lepaskan. Ia bagai seorang tahanan negara di sel kamarnya yang luas. Mulutnya mereka rekati dengan lak ban hitam hingga tak mampu lagi otot – ototnya menggerakakan agar terbuka dan berbicara, berteriak tepatnya.
”Nesi tak menyangka Bapak tega melukai Nesi!” Si cantik yang malang itu berteriak – teriak mencoba berbicara, namun hanya suara begunya lah yang terdengar.
”Sudahlah Nesi, jangan lagi kau meronta seperti itu. Sudah cukup kau berteriak memanggil tsunami agar membantumu menentang Bapak. Sudah cukup kau panggil hujan lengkap dengan angin ributnya untuk menghempaskan Bapakmu ini. Turuti saja apa mau Bapak!” Bapak angkat Nesi meninggikan suara dihadapan gadis cantik yang teraniaya oleh perbuatannya itu.
”Nesi, Ibu tahu kau menderita dengan peraturan bapakmu yang mengekangmu. Kau ikutlah bersama Ibu saja, jadi satu – satunya milik Ibu. Ibu yakin kau akan bahagia dan sejahtera di tangan Ibu.” Bujuk ibu pada Nesi sambil membelai – belai rambutnya.
”Ibu pun sama saja.” Aku tahu Nesi pasti menggerutu dalam hatinya seperti itu. Nesi tetap menjadi perebutan antara dua orang yang ingin memilikinya seutuhnya, menguras habis apa yang ia punya, mengeksploitasi kekayaanya dan menikmatinya sendirian. Mereka memang rakus, kasihan Nesi.
Tak lama ibunya mengambil gunting besar mirip pemotong rumput untuk memangkas rambut Nesi. Nesi memberotak, dia tak henti – hentinya menangis dan terus menangis. Aku yang melihat semua kejadian itu pun hanya bisa melotot tanpa bisa berbuat apa – apa. Andai aku bisa bergerak, akanku bawa kabur Nesi keluar planet yang tak ramah kepadanya. Dia terlihat menderita sekali dengan air mata yang tak henti – hentinya mengalir, dan aku takut air matanya meluap dan dapat menenggelamkan dirinya. Dia terus meronta bak gempa berkekuatan maksimal.
”Nesi, kau tak lagi cantik hari ini.”
–unw–
”Tok….tok….tok” Terdengar suara pintu istana tempat Nesi disiksa diketuk dari depan. Kedua orang tua jahat itu panik tak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk menutupi perbuatan kejinya.
”Dor….dor….dor….” Ketukan pintu itu terdengar lebih keras dari ketukan yang pertama. Mereka semakin panik. Mereka segera melepaskan lak ban dan ikatan tangan Nesi. Digantinya baju Nesi yang berlumur keringat dan air mata. Namun, botak separuh di kepalanya tak dapat mereka tutupi. Nesi berpikir cerdas. Inilah saatnya ia mengadukan semua pada orang yang mengetuk pintunya bahwa ia telah disiksa oleh mereka.
”Tolong!!!” Teriak Nesi tak mau melewatkan kesempatan langkanya dengan sisa – sisa suaranya. Suaranya laik petir yang menyambar, kencang bagai angin yang menumbangkan pepohonan.
”Gubrak!” terdengar suara keras yang tak kalah dengan teriakan Nesi. Nampaknya orang yang tadi mengetuk pintu, lalu menggedornya, dan lantaran mendengar teriakan Nesi yang meminta tolong ia berinisiatif untuk mendobraknya.
”Ada apa ini?” sesosok lelaki muda nan tampan, berwajah eksekutif mengenakan jas hitam lengkap dengan dasi motif garis bertanya dengan nada marah melihat kejadian yang janggal di istana tersebut.
”Ah, Mas ini ngapain kesini dan mencampuri masalah keluarga kami.” Jawab bapak Nesi mencoba tenang menghadapi anak muda tersebut.
”Aku mencium bau penindasan dan kesewenang – wenangan disini, sebagai generasi muda saya berkewajiban membela orang – orang yang tertindas.” Ucap pemuda itu menggebu – gebu seperti sedang kampanye pilpres atau cagub.
”Anda ini masih bau kencur, belum mengerti apa yang anda katakan tadi.” Kata ibu Nesi meremehkan walau dengan mimik ketakutan.
”Kau Nesi kan? Sudah lama aku mendambamu, Nesi. Aku tahu kau teraniaya di tangan mereka.” Ujar lelaki itu dengan iba sambil berjalan menghampiri Nesi dan memegang bahunya.
”Begini saja agar adil bagaimana kalau Nesi yang memilih siapa yang cocok untuk mendampinginya.” Anak muda itu memandang Nesi dengan tatapan meyakinkan. Mereka semua terdiam, sejenak Nesi menunduk dan berpikir untuk mangambil keputusan yang setepat – tepatnya demi kebaikannya sendiri.
”Baiklah, karena ini kehidupan saya, biar saya yang memutuskan untuk memilih siapa diantara kalian bertiga.” Nesi mengangkat kepalanya dan tersenyum simpul diantara sakit yang ia derita akibat penganiayaan tadi. Lalu, Nesi memandangku beberapa lama.
”Saya memutuskan untuk menyerahkan keputusan saya pada boneka monyet ini. Boneka monyet inilah yang selama ini menjadi saksi atas semua kejadian. Aku yakin boneka ini bisa merasakan penderitaan yang saya rasakan.” Ucap Nesi. Ha! Nesi memberikan kepercayaan yang begitu amat pentingnya kepadaku? Oh, Nesi apakah aku begitu berarti dalam hidupmu sehingga kau mempercayakan keputusan terbesar dalam hidupmu kepadaku?
”Kau gila, boneka butut itu benda mati Nesi, bagaimana cara dia untuk memilih?” Ucap pemuda itu sambil terheran – heran atas keputusan Nesi.
”Aku akan melemparkannya ke atas, siapapun yang kejatuhan boneka kesayanganku ini, dialah yang dapat memiliki aku seutuhnya.” Ujar Nesi yakin. Oh Nesi sungguh sulit bagiku untuk mengetahui siapa yang kau inginkan.
”Sayang, aku yakin kamu bisa memilih satu diantara mereka bertiga. Aku yakin kau bisa mengerti siapa yang ku ingin tanpa mengalahkan siapa. Aku yakin kamu punya kekuatan yang amat dahsyat. Dulu kau pernah melepaskanku dari jeratan orde yang diktaktor, dan sekarang akupun yakin padamu.” Ucap Nesi padaku seakan amat percaya pada boneka yang tak berdaya ini. Kata – katanya membuatku bangkit. Ucapannya membuat semangatku terisi penuh bukan hanya sebagai boneka monyet yang berdiam
diri melototi keadaan yang semakin semrawut ini, tapi sebagai ’orang’ yang menentukan masa depan Nesi.
”Berkumpulah kalian bertiga di dekatku, akan ku lemparkan boneka ini ke udara.” suruh nesi pada mereka bertiga. Segeralah mereka berkumpul, dan pasrah. Masa depannya akan mereka serahkan pada benda mati yang konyol.
”Siap…satu…dua…tiga…” Nesi melayangkan aku di atas kepala mereka. Cepat aku memutuskan untuk menjatuhi siapa yang aku pilih. Dengan penuh tenaga aku meliukkan kepalaku seperti elang yang akan mematuk anak ayam dan kujatuhkan tubuhku pada pemuda bergaya eksekutif yang tampan. Dialah yang aku pilih sebagai pemilik Nesi yang belum lagi cantik. Tapi aku yakin dengan menjadi milik eksekutif muda itu Nesi akan kembali tampak cantik, aman, dan bahagia.
–unw–
Lama aku tak mendengar kabar Nesi. Apakah dia amat bahagia dengan pemuda itu hingga lupa denganku? Sekarang aku terkungkung dalam lemari kaca, amat mewah memang, dikanan kiri ada benda sepertiku menemani setap waktu. Pemuda tampan itulah yang menaruh kami disini. Tiba – tiba ada tangan yang mengambilku dari lemari, membopong tubuhku dan berganti mencekik leherku sampai keluar istana.
”Kau tak pantas ada disini!” Aku sangat bingung dengan perlakuannya padaku. Suaranya serak, hampir tak terdengar olehku.
”Apakah ini kau, Nesi. Apa yang terjadi denganmu?” Ucapku dengan leher tercekik.
”Buk!” di lemparkannya aku ke dalam keranjang sampah di depan istannya, sangat keras. Di antara celah – celah keranjang aku melihat sosok Nesi bukan lagi seperti Nesi yang ku kenal. Rambutnya habis terkikis, tak ada lagi sehelaipun yang menempel. Tubuhnya yang dulu langsing berubah menjadi kurus kering bak pengungsi kelaparan. Cara dia berjalan tak lagi seperti Cat Woman yang meliuk – liuk seksi, tapi lebih seperti orang mabuk berat, sempoyongan. Aku hanya bisa melotot menatapi tubuh yang berjalan semakin jauh dariku.
”Kau sungguh tak cantik lagi indoNESIa. Salahmu mempercayai boneka monyet yang tak berotak sepertiku.”

Penulis : Rokhyati (07201241022)
Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta, suka menulis tapi belum ada tulisannya yang dihargai, melalui tulisan ini diharapkan mampu mengembangkan tulisannya menjadi lebih punya arti. Suka sedikit membaca, mendengar musik dan sesekali jalan – jalan melepaskan kepenatan. Ia lahair di Purbalingga, 20 Desember 1989. jika ada yang ingin memberikan saran yang membangun, janganlah ragu untuk menghubunginya di email, friendster atau YM ke cie7_oh@yahoo.co.id Tak usah memberi kritik, karena hatinya masih belum siap mendapat caci maki orang. Cerpen ini ia tujukan kepada negaranya yang masih belum menemukan ’orang’ yang tepat untuk memilikinya.

November 20, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: